Arti DI BALIK TULISAN TANGAN BUAH HATI

Anak saya Wildan yang duduk di kelas 2 SD paling sering komplain kalau mendapat pelajaran menulis halus. Maklum, di mata pelajaran itu, anak harus sabar dan tekun menulis latin dengan tebal tipis yang diarahkan guru. Bukunya pun khusus bergaris dua, untuk huruf besar dan huruf kecil. Kadang kala, Wildan harus menulis sebanyak satu halaman untuk satu kalimat yang diminta. Sebagai orangtua mungkin kita sendiri mempertanyakan apakah pelajaran menulis halus ini masih dibutuhkan di zaman canggih seperti ini? Untuk menulis, bukankah ada komputer?

Menulis surat juga sudah enggak zaman karena telah tergantikan dengan instan messaging, seperti BBM, what’s app, Line, KakaoTalk. Jadi apa masih diperlukan pelajaran menulis halus? Kalau itu pertanyaannya, jawabnya masih banget. Generasi Z memang mahir menggunakan teknologi apa pun. Namun justru itu masalahnya. Terbiasa memencet-mencet gadget, malah membuat mereka tak cekatan saat harus meliukliukkan tangan kala menulis huruf. Padahal masa usia sekolah (usia 6—12 tahun) adalah masa intelektual; pada saat ini kerja otak berfungsi dominan. Nah, terkait dengan menulis halus, secara kognitif, aktivitas ini dapat memengaruhi cara kerja otak secara langsung. Saat anak menggerakkan tangannya, ini akan merangsang bagian fungsi otaknya.

Masih banyak manfaat lain. Menyambung huruf demi huruf tanpa putus saat menulis haus, misal, akan melatih gerak motorik halus anak. Namun yang terpenting, pikiran, mood, dan perasaan yang tercurah pada saat menulis akan melatih kesabarannya. Terkait dengan terlibatnya perasaan ini, menulis halus juga dipercaya bisa menggambarkan emosi anak. Secara sederhana, kita bisa perhatikan, jika saat menulis, anak dalam keadaan marah, akan tampak tekanan pada tarikan garis hurufnya bahkan ketebalan tulisannya bisa sampai menembus kertas di bawahnya. Sementara dalam keadaan capek atau malas, akan tampak tekanan tipis pada tarikan garisnya.

TERAPI DAN PEMBENTUK KARAKTER

Bagaimana dengan karakter? Untuk mengetahui karakter seseorang, tidaklah sesimpel dengan hanya melihat tulisan saja. Jadi tak benar, tulisan yang bagus akan menandakan karakter anak yang rapi. Sebaliknya tulisan yang jelek, anaknya “amburadul”. Pada taraf ini, grafolog yang dapat menilai. Bahkan seorang grafolog, bisa menggambarkan kondisi kejiwaan, kepribadian seseorang, dan lain-lain. Dengan pengetahuan dan pengalamannya, seorang grafolog, dapat melihat masalah kesulitan belajar pada anak, misalnya. Ia akan melihat penyebab mengapa tulisan tangan anak seperti itu, apakah karena kurang konsentrasi/ kurang fokus, ataukah ada penyebab lain, karena faktor genetik seperti sindrom Down atau karena masalah pada penglihatannya yang rabun jauh. Intinya, grafalog akan mencari kilas balik dari suatu tulisan tangan dengan wawancara, pengamatan, laporan guru, dan lainnya. Kalau memang positif mengalami kesulitan belajar/kurang konsentrasi, anak dapat menjalani terapi menulis indah/menulis halus. Sekali lagi menulis sambung menyambung tanpa putus memerlukan teknik yang membutuhkan kesabaran.

Simak Artikel Parenting Lainnya di generasimaju.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *